Tuesday, 9 January 2018

Analisis Budaya: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

Pramudya  Ananta Toer


A.        Tentang penulis

Pramudya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Februari 1925. Menulis sejak di bangku sekolah dasar, kini beliau telah menghasilkan lebih dari 35 buku, baik fiksi maupun non fiksi. Beberapa karya – karyanya yang terbit pada masa Orde Baru dilarang oleh pemerintah. Ia pernah menjabat sebagai juru ketik di kantor berita Domei (1942 – 1944).  Beberapa penghargaan dari dalam dan luar negeri pernah diraihnya selama menjadi penulis.

B.        Penerbit

Buku ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada tahun 2001 untuk cetakan pertama dan tahun 2002 untuk cetakan kedua.

C.        Karakter, setting, dan bahasa

Penokohan dalam Buku ini menggunakan teknik langsung dan tidak langsung. Ada banyak sekali tokoh yang diceritakan penulis, karena buku ini merupakan kumpulan dari beberapa catatan kesaksian mengenai perawan remaja yang dijadikan budak seks.  Beberapa tokoh utama yang sering diceritakan diantaranya adalah :
1)      Siti F., salah satu wanita korban kebiadaban Jepang yang tinggal di Wai Apu bersama suku pedalaman Alfuru. Ia merupakan wanita cerdas dengan jiwa kepemimpinan tinggi.
2)      Bolansar, wanita buangan di Pulau Buru yang berasal dari Pemalang. Ia memiliki sifat suka menolong dan berbagi serta peduli terhadap orang lain.
3)      Ibu Mulyati dari Klaten. Penderitaan tak tertangguhkan yang diterimanya, telah menjadikan beliau sebagai seorang yang pemberani dan berjiwa kepemimpinan tinggi.

Buku ini memiliki latar waktu, tempat, dan suasana yang beragam. Tahun 1942 – 1945 di Jepang, Pulau Jawa, dan Asia Tenggara.  Tahun 1972 – 1979 di Pulau Buru.  Sebagian besar suasana dalam Buku ini adalah menyedihkan, mengharukan, dan menegangkan. Cerita dalam buku ini memiliki alur campuran. Bahasa yang digunakan penulis dalam buku ini menggunakan bahasa Indonesia yang baku dengan campuran berbagai macam bahasa daerah, seperti Melayu dan Maluku.




D.        Sinopsis

“…. Kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu…. Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…”
 –Pramoedya Ananta Toer-

Buku ini dibuat berdasarkan catatan yang dimiliki oleh penulis selama berada di pengasingan, tepatnya di Pulau Buru. Buku ini menceritakan tentang peristiwa dibalik masa penjajahan Jepang. Bagi bangsa Indonesia, hal tersebut merupakan peristiwa sejarah yang sangat penting dimana bangsa Indonesia sedang berada di puncak perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan. Namun, dibalik semua peristiwa sejarah yang dituliskan dalam arsip negara, terdapat kejadian yang dapat membuat hati kita bergetar apabila kita mengetahuinya.
Pada tahun 1943, serangan besar – besaran pihak sekutu di Asia Tenggara membuat posisi balatentara Jepang bergeser dari agresif menjadi defensif. Sikapnya terhadap nasionalisme Indonesia juga mulai berubah, sehingga kaum nasionalis di Jawa dan Sumatera mendapatkan keleluasan berpropaganda.
Hubungan laut dan udara balatentara pendudukan Jepang di Asia Tenggara dengan Jepang menjadi sulit. Orang Indonesia, melalui PETA (Pembela Tanah Air), mendapatkan latihan kemiliteran untuk menjadi perwira demi mempertahankan tanah airnya dari serangan Sekutu. Balatentara Jepang sendiri ditarik ke garis terdepan.
Sulitnya hubungan laut dan udara menyebabkan balatentara Jepang tak lagi bisa mendatangkan wanita penghibur dari Jepang, China, dan Korea. Sebagai gantinya, para gadis Indonesia dikirimkan sebagai wanita penghibur.
Balatentara Jepang melakukan propaganda kepada bangsa Indonesia dengan menginformasikan melalui mulut ke mulut. Jepang berjanji akan menyekolahkan banyak gadis Indonesia sebagai upaya untuk persiapan membangun negara Indonesia pasca Indonesia merdeka. Para wanita tersebut nantinya akan difokuskan untuk menguasai satu bidang keahlian, seperti menjadi juru rawat, tenaga pendidik, ahli ekonomi, dan lain lain.
Para pejabat negara seperti kepala desa, ketua RT, dan Kepala Residen, mereka semua diberi propaganda untuk melepas dan mengizinkan putri mereka guna menuntut Ilmu di Jepang. Hal tersebut merupakan sebuah keharusan. Apabila mereka melanggar, Jepang mengancam akan melepas jabatan mereka. Tentu saja putri para pejabat tersebut berbangga hati dengan alasan mereka akan mengejar cita – cita dan menjadi orang yang dapat bermanfaat bagi bangsa Indonesia.
Namun semua itu hanyalah tipu muslihat semata. Kenyataan berkata lain, bukan pendidikan yang mereka dapatkan, namun kekejaman, penganiayaan, dan kesengsaraanlah yang mereka peroleh.  Faktanya, gadis gadis itu tidak pernah sampai ke Jepang. Mereka dijadikan budak seks bagi  balatentara Jepang. Para gadis itu bukanlah gadis biasa. Jepang cukup selektif dalam memilih. Rata rata dari mereka berparas cantik dan pintar, karena mereka merupakan keturunan para priyayi dan mereka telah memperoleh pendidikan SD dan atau SMP.
Awalnya, para gadis tersebut dijemput oleh sekelompok tentara Jepang di rumahnya. Kemudian, mereka dikumpulkan di sebuah tempat. Dibawa dengan kapal ke berbagai wilayah di luar Jawa. Salah satunya  adalah di Pulau Buru, MalukuMeskipun saat masa pendudukan Jepang telah usai mereka telah dibebaskan, namun tetap saja mereka tak berani pulang ke kampung halamannya yang sebagian besar berada di Pulau Jawa.
Dengan pengalaman kelam yang mengoyak harga dirinya, menjadi alasan mereka tidak berani bertemu keluarga. Banyak diantara gadis-gadis itu yang diperistri oleh orang asli setempat, suku Alfuru. Bahkan diantara dari mereka meninggal sia-sia karena tak bisa bertahan hidup lebih lama.


E.         Opini pribadi

Banyak sekali kajian mengenai feminisme dan adat istiadat masyarakat setempat pada saat itu dan sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan analisis sastra. Buku ini sarat akan makna kehidupan dan perjuangan terutama bagi para perempuan. 
Secara keseluruhan, buku ini sangat bagus dan kaya akan informasi mengenai sejarah yang jarang ditemukan di buku lain dan mengungkap fakta yang selama ini tidak diketahui masyarakat. Buku ini membuka wawasan yang sangat luas bagi para pembacanya. Kita dapat mengetahui dan ikut merasakan bagaimana penderitaan dan keadaan para wanita yang menjadi korban dibalik peristiwa sejarah negeri ini. 


Analisis Subjective

1.       “Dari keterangan seorang teman lain yang pernah bicara dengannya, ternyata Ibu yang setua dan serapuh itu tidak luput dari siksa dan aniaya sampai darahnya berlelehan dari tubuhnya, hanya karena Ia ketahuan telah berbiara dengan bahasa yang tidak dikenal oleh lingkungannya, adatnya, atau berhubungan dengan orang – orang dari negeri seberang. Wanita tidak boleh bicara dalam bahasa apapun kecuali bahasa Buru.”

“Ibu Muka Jawa mengulangi lagi sumpahnya pada Pamali dengan jalan membikin garis silang diatas tanah. Jari – jarinya yang tua kemudian menjumput tanah dari titik silang dua garis lurus itu dan memasukkan ke dalam mulut, memakannya sambil berkata : Dari bumi ini aku lahir. Dari bumi ini aku makan. Aku akan mati dan kembali di bumi ini juga.” (Halaman 97)

Pada paragraf pertama menjelaskan mengenai aturan adat bagi wanita di Pedalaman Buru. Mereka dilarang menggunakan bahasa selain bahasa Buru karena penduduk asli pedalaman Buru khawatir apabila para wanita tersebut akan melarikan diri. Para wanita tersebut dikekang oleh aturan adat setempat yang ketat.  Pada paragraf kedua dijelaskan mengenai tata cara ritual sumpah adat tersebut.

2.       “Itulah sajian untuk Pamali. Para pemuda Nisoni telah membuat sajian itu atas petunjuk kepala adat untuk mengusir penyakit yang menyerang babi – babi piaraan. Batang – Batang pisang yang ditancapi satu – dua ranting adalah lambang ucapan syukur pada Pamali setelah mereka berhasil berburu. Batang pisang diumpamakan binatang buruan dan ranting adalah tombak yang menghukum.” (Halaman 120)

Suku pedalaman Alfuru percaya bahwa dengan memberikan sesaji kepada Pamali (Leluhur yang dipercaya berkuasa di daerah setempat), adalah salah satu cara untuk mengusir penyakit bagi binatang peliharaan mereka. Hal tersebut dilakukan berdasarkan arahan dan petunjuk dari ketua adat.

3.       “Adat kampung tidak membenarkan seorang anak menyebut nama orangtuanya selagi Ia masih bergantung pada mereka.” (Halaman 121)

Bagi masyarakat pedalaman Alfuru, adat istiadat sangat dijunjung dan siapapun yang melanggar pasti akan dihukum. Seorang anak dilarang menyebut nama orang tuanya selagi Ia masih bergantung pada mereka. Hal tersebut dimaksudkan agar seorang anak lebih menghormati dan menghargai usaha orang tua selama membesarkan anak anaknya. Memanggil orang tua dengan sebutan nama merupakan hal yang tabu dan dinilai melanggar etika.




Analisis Objective

1.       “Ia tinggal di sebuah gubuk berdinding gaba – gaba (pelepah daun sagu). Gubuk panggung itu bersambung dengan dapur, yang juga beratap rumbia. Beberapa kali Slr. datang ke situ dan membantu membersihkan kebun pelataran yang ditanami ubi jalar dari rerumputan.”
 (Halaman 56)
Kutipan paragraf diatas menunjukkan ciri ciri fisik rumah salah satu suku di Pulau Buru, yaitu di Kampung Wai Lo.

2.    “Wanita setengah baya itu, mungkin Ibu si gadis kecil, nampak lain daripada wanita Alfuru pada umumnya. Rambutnya dikonde baik – baik. Kebayanya yang telah tua dan jauh dari warna aslinya sudah agak kumal, tapi nampak rapi.” (Halaman 60)
Kutipan paragraf diatas menunjukkan ciri ciri fisik, terutama cara berpakaian wanita jawa pada umumnya, yaitu memakai konde dan kebaya.

3.       “Berdasarkan berita itu, Mokhtar memperkirakan bahwa Kartini adalah istri Raja Gunung itu sendiri.” (Halaman 64)
Yang dimaksud Raja Gunung dalam kalimat tersebut adalah raja yang diakui di pedalaman Pulau Buru. Jadi, di Buru Utara terdapat dua raja, Raja Gunung dan Raja Kayeli. Mereka berasal dari satu marga; Wael. Raja Kayeli adalah penghubung antara suku bangsa Alfuru dengan Pemerintah Hindia – Belanda, kemudian menjadi raja yang diakui beragama Islam.  Kedua raja tersebut tidak memiliki kekuasaan administratif.

4.       “Waktu kecil pamanku sering menyebutkan kata parlente dalam arti berpakaian bagus dan rapi. Dalam kitab lama parlentai berarti petualang, avonturir, mercenary. Tetapi parlente yang kudengar pertama kali di Pedalaman Buru ini ternyata kata umum di Maluku yang berarti dusta, omong kosong, bohong. Jelas berasal dari kelompok bahasa latin (Prancis; parler) dan mungkin sekali pengaruh portugis.”
Dari paragraf diatas, terdapat perbedaan makna bahasa antara orang Jawa dan Maluku. Meskipun pengucapan dan tulisan yang sama, namun memiliki arti yang berbeda. Hal tersebut bisa saja terjadi karena pengaruh bangsa asing pada masyarakat setempat saat itu.   



Analisis Behavior
1.       “Pemerintah Balatentara Pendudukan Dai Nippon sangat takut pada keburukannya sendiri, pada kegagalan – kegagalannya sendiri, daripada berita buruk. Waktu Nippon Eigasa (Kantor Film Jepang), terletak sekitar 150 meter disebelah kanan kantorku, Domei, terbakar, tak sebaris pun berita disiarkan. Sedang kecelakaan itu bukan tidak meminta kurban jiwa manusia. Malah dua orang diantaranya istri dan anak tetanggaku.” (Halaman 7)

Paragraf tersebut menjelaskan bahwa Jepang adalah negara yang takut pada keburukannya sendiri. Hal ini memang telah menjadi budaya dan melekat pada orang Jepang. Mereka merupakan bangsa yang memiiki urat malu yang tinggi apabila mengalami kegagalan. Sebagai contohnya adalah pengunduran diri Menteri Ekonomi  Akira Amari atas tuduhan korupsi. Meskipun telah membantah tuduhan tersebut, Ia juga meminta maaf karena telah mencemari nama baik lembaga pemerintah Jepang.

2.       “Sesuatu yang menarik padanya ialah tingkah lakunya yang tidak sama dengan orang Alfuru, terutama wanitanya. Ia memperlihatkan kepemimpinan, dihormati, dan didengarkan oleh lingkungannya-suatu keluarbiasaan pada wanita Alfuru. Baik lelaki maupun perempuan melakukan perintahnya, termasuk suaminya sendiri. Jalannya diatur selangkah – selangkah, tepat seperti keluarga priyayi atau menak jaman Belanda. Dengan langkah itu pula Ia menerjang ilalang dan memasuki hutan. Sudah dari langkahnya nampak Ia bukan perempuan setempat. Lebih meyakinkan karena pakaiannya selalu rapi , demikin juga rambutnya. Warna rambutnya cukup hitam, tidak pirang seperti umumnya penduduk setempat.” (Halaman 68)

Wanita dalam paragraf tersebut adalah Siti F., Ia adalah orang Sunda, salah satu wanita yang menjadi korban akibat kebiadaban bangsa Jepang. Paragraf tersebut menunjukkan tentang bagaimana perilaku orang Jawa yang merupakan keturunan priyayi. Cara Ibu Siti berjalan menunjukkan bahwa Ia adalah wanita Jawa., selain itu, dari sifat kepemimpinan yang Ia miliki juga menunjukkan bahwa Ia adalah wanita yang pernah mengenyam bangku pendidikan.

Share:

Thursday, 4 January 2018

Resting Bitch Face Syndrome Bukanlah Penyakit Sosial




Resting Bitch Face Syndrom be like a grumpy cat
Image source : AllPosters.com
 Ekspresi wajah merupakan hal yang penting dalam hubungan interpersonal (Suslow, Dannlowski, Arolt & Ohrmann dalam Swinney, 2017). Seperti yang dikatakan oleh Montepare & Dobish dalam Swinney (2017)  bahwa ekspresi wajah seseorang dapat memberikan informasi bagaimana keadaan dan juga perilaku orang tersebut. Dalam berkomunikasi, manusia tidak hanya menggunakan bahasa sebagai alat penyampaian pendapat, tetapi bahasa tubuh dan raut wajah juga dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan makna

Istilah Resting Bitch Face  saat ini masih terdengar asing di telinga  masyarakat. Padahal kehadiran orang – orang yang menderita sindrom  ini cukup banyak. Apabila kita mau memperhatikan orang – orang di sekitar kita, maka kita kan menemukan beberapa orang yang dianggap selalu memasang ekspresi wajah yang murung, tidak bisa tersenyum, penuh dengan kebencian, dan seakan akan ingin  memukul orang yang sedang ditemui oleh para penderita sindrom ini. Orang – orang yang mengalami sindrom ini belum tentu selalu bersikap jahat, galak, sedih, ataupun kesal. Mungkin mereka memiliki sikap baik yang tertanam dalam hati maupun kepribadiannya. Hanya saja mereka tidak bisa menunjukkan ekspresi netral yang terlihat gembira di wajah mereka. Apabila ada pepatah yang mengatakan bahwa terkadang hati, dan pikiran, memang tak selaras dengan rupa, hal tersebut benar adanya, karena inilah yang sering dialami oleh para penderita sindrom RBF (Resting Bitch Face).  
Ahli bedah plastik menyatakan bahwa fenomena ini sering ditemui di dunia bedah. Tidak dapat dipungkiri bahwa memang ada kelainan yang terdapat pada otot wajah penderita sindrom tersebut. Kelainan tersebut membuat para penderita selalu menunjukkan wajah yang tidak bersahabat dalam keadaan atau posisi dimana wajah mereka memang sedang dalam keadaan netral. Karena mereka berada dalam keadaan  dimana mereka merasa kesulitan untuk mengontrol bagaimana ekspresi wajah mereka. Bahkan, para penderita sindrom ini tidak menyadari bagaimana ekspresi wajah mereka ketika mereka berhadapan atau berbicara dengan orang lain.  Sehingga banyak dari mereka yang mendapatkan citra sebagai orang yang mahal senyum dari beberapa   orang.

Pengaruh Stereotip Gender
          Sebagian besar penderita Resting Bitch Face Syndrome merupakan wanita. Pada dasarnya anggapan apakah seseorang menderita sindrom  tersebut merupakan sesuatu yang tidak jauh dari subyektivitas belaka. Hal yang patut menjadi pertanyaan adalah, mengapa sindrom ini banyak diderita oleh wanita? Tentu saja istilah stereotip gender ikut terlibat untuk menjawab pertanyaan ini.  Mari kita telaah pernyataan tersebut dengan melihat lebih jeli mengenai perilaku yang terdapat dalam masyarakat. Camia (2016:7) menjelaskan bahwa  sejak usia muda, para wanita telah diajarkan bahwa mengekspresikan kemarahan merupakan hal yang tidak lazim. Sadar atau tidak, bahwa sejak zaman nenek moyang dulu, masyarakat sering memberi label  terhadap wanita bahwa seorang wanita itu hendaknya selalu tersenyum, lemah lembut, dan haram hukumnya untuk cemberut. Berbeda dengan laki-laki yang tidak mendapat label tersebut. Malah akan terlihat aneh apabila seorang laki – laki sering tersenyum, karena citra yang dimiliki antara laki – laki dan perempuan jelas berbeda. Laki – laki cenderung akan terlihat lebih maskulin tanpa harus selalu tersenyum seperti apa yang seharusnya wanita lakukan.  Hal tersebut tentu dapat dikaitkan  dengan budaya patriarki dimana laki – laki memegang peranan yang dominan dalam masyarakat. Laki- laki memang mengharapkan wanita  untuk selalu tersenyum, dengan begitu wanita akan terlihat lebih cantik. Reyes (2015:13) dalam penelitiannya mengenai jenis wajah yang menarik perhatian pria pada wanita menemukan bahwa pria lebih menyukai wajah wanita yang awet muda dengan ekspresi ramah. Wanita yang lebih sering tersenyum memiliki peluang yang lebih besar untuk membuat orang lain menjadi tertarik. 
          Tidak hanya itu, pengaruh ekspresi wajah juga berpengaruh dalam hal pekerjaan di masyarakat. Pernyataan tersebut juga didukung oleh Brescoll dan Ulhmann (2008:273) dalam artikel penelitiannya yang membahas mengenai perbedaan status, jenis kelamin, dan kemarahan menemukan bahwa para wanita yang mengekspresikan kemarahannya secara konsisten atau dengan kata lain sering marah,  mereka cenderung memiliki status jabatan yang lebih rendah dan dipandang kurang kompeten. Meskipun yang sebenarnya terjadi pada wanita penderita Resting Bitch Face, hanyalah ekspresi wajah mereka yang menunjukkan kemarahan , namun orang lain cenderung akan  melihat pertama kali pada wajah. Hal tersebut tentu saja  secara tidak langsung akan mempengaruhi reputasi, karir, dan kesuksekan wanita tersebut.  Namun , lain halnya dengan laki-laki. Meskipun ada beberapa dari mereka yang juga memiliki sindrom Resting Bitch Face, hal tersebut tidak akan menjadi masalah bagi karir dan  pekerjaan mereka. Hal ini dapat dilihat di lingkungan sekitar kita bahwa banyak dari mereka yang sukses dalam pekerjaan dan  memiliki jabatan tertentu dalam karir mereka.

 Menentang Kearifan Lokal
          Ramah dan murah senyum merupakan budaya yang diagung-agungkan  oleh masyarakat Indonesia. Terlebih lagi, anggapan anggapan  bahwa Indonesia   adalah negara yang masyarakatnya ramah dan tidak mahal senyum telah menjadi ikon dan ciri di dunia pariwisata.  Hal tersebut merupakan hal yang patut dibanggakan.. Sudah jelas bahwa orang akan lebih senang ketika melihat orang lain senang. Karena emosi itu sejatinya dapat menular.  Namun, hal tersebut malah menjadi momok bagi para penderita sindrom Resting Bitch Face. Apa yang mereka rasakan tidak selaras dengan budaya yang dimiliki oleh bangsa ini. Orang normal cenderung akan mengatakan bahwa apa susahnya untuk tersenyum. Sedangkan yang dilakukan oleh penderita Resting Bitch Face Syndrome adalah sudah berusaha untuk tersenyum ketika bertemu orang lain. Hanya saja, orang lain seringkali menangkap ekspresi netral yang seharusnya ketika orang normal berekspresi datar atau biasa saja, namun yang nampak pada  penderita Resting Bitch Face Syndrome adalah ekspresi sedih atau marah.  Tidak mungkin bagi seorang penderita sindrom ini untuk selalu tersenyum selama berjam–jam, karena hal itu akan menyebabkan otot wajah, terutama pada bagian pipi akan menjadi sakit akibat dipaksakan untuk terus menegang. Sejatinya para penderita sindrom tersebut tidak perlu dipersalahkan. Karena pada hakikatnya mereka juga tidak bersedia menjadi penderita. Hal yang menjadi masalah adalah ketika banyak orang beranggapan bahwa penderita sindrom tersebut telah melanggar norma sosial yang ada di masyarakat. Ada juga yang beranggapan bahwa Resting Bitch Face Syndrome merupakan pembenaran dari perilaku buruk yang dimiliki oleh seseorang, terutama wanita.  Sepertinya masyarakat kurang memahami mengenai nilai moral yang sering terdapat dalam cerita dongeng klasik, yang menyatakan bahwa “jangan menilai seseorang dari penampilanya”. Pelanggaran norma sosial bukan mengarah pada bagaimana penampakan seseorang, tetapi lebih kepada perilaku menyimpang yang dilakukan  seseorang dengan  sengaja.



REFERENSI

Brescoll, V.L. dan  Uhlmann, E.L., 2008. Can an angry woman get ahead? Status conferral, gender, and expression of emotion in the workplace. Psychological science19(3), Hlm. 268-275.
Camia, E., 2016, Desember. RBF and the Reluctance to Accept Women’s Anger. Dalam The SAGES University Seminar Essay Awards.
Muñoz-Reyes, J.A., Iglesias-Julios, M., Pita, M. dan Turiegano, E., 2015. Facial features: What women perceive as attractive and what men consider attractive. PloS one10(7).

Swinney, K., 2017. I Love Your Face: Attraction and Facial Expressions of Emotion. Disertasi.   Murray State University.
Share:

Sunday, 13 August 2017

[Book Summary] Pocahontas (Little Mischief)

Pocahontas (Little Mischief)
Author : Leslie McGuire






                This book is written by Leslie McGuire and published Grolier Books in 1995. It tells a story about Pocahontas, a young girl who live in Indiana. She decides to leave home even though her father prohibit her, because a severe storm will approach and it will be danger for herself.
                The story begins when Pocahontas and her friend, Nakoma are going to find geese feathers. Pocahontas is going to put them on a deerskin pouch as a present to her father. Accidentally, they meet a young boy called Chamah. He was playing with a neklace with the chopper ornament on it. Pocahontas said that he is not supposed to touch those necklace, only the chiefs that can do it.  He defends himself that he found it. All of sudden, those necklace falls down into a bluff. That is a big problem, because if the necklace is missing, then the ceremony to keep their tribal friendship strong will be ruined. Then, Chamah is going to takea it back. He is more afraid of what would happen if he doesn’t get the necklace back. Pocahontas suggests him to go back, but he said he won’t go back untill he found the necklace.
                When Pocahontas and Nakoma got to the village, they search for Chamah, but he wasn’t back yet. She is worrying of Chamah. She wants to look for him, but her father forbid her to leave and ask for Nakoma to keep her stay inside.  
                Pocahontas make a run for the edge of the forest. She doesn’t stop untill she know she is out of sight. As she lost in her thoughts in the wood, she doesn’t notice that she is being followed by Meeko and Flit.  In seconds, the sheets of drenching rain poured down and the crack of lightning come. They are alone in the darkness and Pocahontas is cold and wet. Suddenly, she  found her way to the wise spirit of willow tree lived, Grandmother Willow is appear. Then, she build a campfire for Pocahontas and give her a suggestion to keep the fire going.  Suddenly, a tiny wolf pup come closer to them and felt the warm of fire. She is in pain, so Pocahontas decides to heal her hand.
                In the next morning, when they are looking their way to go home, they watch more and more wolves form a quiet circle around the willow tree. She is frighten, but  the wolves do not attaked them. Pocahontas has helped the wolf pup, so that they trust her and  lead them to go back to their village.

                After arriving at the edge of the village, the villagers are wearing their best fringed mantles and their necks are draped with shell necklace and feathered chains. She is wondering whether Chamah had returned. She meets her father and ask apologize to him. Her father said that Chamah returned last night and he found the necklace on a bush halfway down the bluff. Then, she tells her experience to her father.
Share:

Monday, 8 May 2017

Ngrembel Asri, Tempat Rekreasi Keluarga yang Wajib Dikunjungi

Guys, bagi kalian yang berasal dari Semarang, pasti sudah tidak asing kan dengan yang namanya Ngrembel Asri?
Tempat rekreasi ini tepatya berada di daerah Gunungpati, Semarang. Jarak yang ditempuh dari pusat kota hanya memerlukan waktu kurang lebih 30 menit.



Tempat rekreasi ini dapat dikategorikan murah, tapi tidak murahan lho ya...
Kalian boleh masuk secara gratis, tetapi untuk masuk ke area taman dino, kalian harus bayar tiket dulu ya wkwk

Pada awal pertama berdiri, Ngrembel Asri hanya menawarkan fasilitas pemaningan. Namun, demi kepuasan pelanggan, sekarang terdapat banyak sekali fasilitas yang ditawarkan disini. Saya bahas mulai dari makanan dulu ya,
 Pengunjung dapat menikmati ikan bakar dengan nuansa alam yang kental, udara sejuk selalu dapat dirasakan disini. Terdapat 5 macam ikan yang disediakan disini, yaitu ikan lele, bawal, kakap, karper, dan gurami. Menu yang disajikan pun sangat beragam, seperti ikan bakar, ikan asam manis, ikan acar, ikan bumbu bali, dan ikan goreng. Tentu saja, ikan ikan tersebut adalah ikan segar yang baru akan disembelih ketika pengunjung melakukan pesanan. 
Tempat serta pemesanan makanan dilakukan di front desk yang dilayani beberapa petugas sehingga teratur. Hanya dalam waktu kurang dari 29 menit, makanan sudah sampai di meja pelanggan lho. 

ikan bakar ngrembel asri



Banyak sekali fasilitas yang ditawarkan, yaitu kolam renang, arena outbound, wahana omah kayu, kandang kuda, taman dino, ATV untuk anak anak, area paint ball, area target shooting, fling fox, dan sebagainya.
Area yang paling ramai dikunjungi adalah taman dino. Di area ini terdapat kolam renang dengan patung dinosaurus sebagai oranmennya. Utamanya kolam renang ini ditujukan untuk anak anak. Ada juga fasilitas ember tumpah yang tidak kalah seru. 





Ngrembel Asri selalu ramai dikunjungi pada saat hari libur. Di hari libur, Ngrembel Asri dapat menyajikan makanan hingga lebih dari 500 nota dalam satu hari lho, nggak kebayang kan gimana ramainya. 😃
Jadi tunggu apalagi, bagi kalian yang ingin merencanakan liburan bersama keluarga, ya disinilah tempatnya. Yuk di agendakan yaa....

Share:

Thursday, 30 March 2017

[Book Report] For One More Day - Mitch Albom



            For One More Day is a novel that is written by Mitch Albom. He is an American author, journalist,  screenwriter, dramatist, radio and television broadcaster, and musician. This is the second novel that was published in 2006. It has been translated into 26 languages. This novel tells us about a family life, especially the relationship between a son and his mother.
            What would you do if you could spend one more day with a lost loved one? This is not a love story, but this is a story about family. Charley “Chick” Bennetto is a former baseball player. He had attempted to kill himself for many times, but The God saved his life. Charley Bennetto is a broken man, alcoholic, and his life is full of regret and destruction. He loses his jobs, his family was broken since he was a child. It forced him to decide which parent he most like to choose. He should decide which boy he wanted to be. Be a mamma’s boy or daddy’s boy. He picked his father, but later his father left his family and chick lived with his mother and his sister.  How difficult it was, to live in broken home family.
The apple doesn’t fall far from the trees.Like his parents, when he was being an adult, his own family alsodivorced. He was very disappointed as a father, because he wasn’t invited to his daughter’s wedding.
This book tells many experience of Chick Bennetto when he was a child.It also tells the simple stories about the time when he stood up for his mother and the time he didn’t stand up for his mother.
The most memorable story is, when his mother dressed him to be a mummy at the halloween carnival in the afternoon.  His mother used toilets paper to wrap chick’s body, because it was cheap.  Unfortunately,  it rained. The mummy was not a mummy again. The other parents were happy to take a photos  of their child, but not with Charley. He felt very shy, all of the people laughed at him. He said to his mother “you’ve ruined my life!”.
Charley felt desperate since his mother passed away. He was alone and no one support him on his side. He was playing baseball in a competition when his mother died because of heart attack. It was the reason why he always blamed himself.
Charley Bennetto died five years after his attempted suicide. The cause of Chick’s death was a sudden stroke at the age of fifty eight. A week before his stroke, he seemed to sense that time was short. He told people around him “Remember me for these days, not the old ones”. He was buried near his mother’s grave.
There is a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. Butm behind all of your stories, there is always you mother stories because hers is where yours begins.

Overall, this novel is great. The stories of Charley Bennetto remind me to my family, my parents, and especially my mother. The conversation and several incidents in this novel close to our reality in our daily life. 
Share:

Friday, 3 February 2017

[Book Summary] Sherlock Holmes; The Hound of Baskerville

          This is the 3rd  novel by Sir Arthur Conan Doyle that tells about Sherlock Holmes, an expert detective in steps to solve many case. He had a partner who lived in the same apartment with him called Dr. Watson.

        The story began with the murder of Sir Charles Baskerville at the moor near his house, Baskerville Hall.  It  made  Dr. Mortimer (Sir Charles Baskerville’s friend) looked for Sherlock Holmes at Baker Street to ask for some help and advice to solve the case. He brought an old manuscript consistof  the legend of Baskerville. Holmes agrreed to investigate the case.

      Sir Charles Baskerville was a widower who lived with his servants. Both of his servants was a couple of married. They are Mr. & Mrs. Barrymore. Their family hadworked for Baskerville’s family during 4 generation.

        Sir Charles’s death was guessed because he was shocked when he looking the hound which ran after him. He ran for it, fraightened and cried out. Due his heart disease, his fear make he fell down and his heart disease relapse thencausing death. This incident was often beingrelated to the curse of Baskerville’s family. The curse began at Hugo Baskerville’s death. He is nobility from Baskerville family who was notoriously cruel, churlish and obstinate. He dead at the moor, together with a girl when he run after the girl who was made a break for it.

       The next target of the hound haunting was Sir Henry Baskerville, a Baskerville’s descent who  lived in Canada. He returned to Baskerville after his uncle, Sir Charles was dead.

        When Sir Henry arrived in London, Dr. Mortimer accompany him to meet up with Sherlock Holmes for talking about the case and problem. Holmes decided if Sir Henry wanted to go to Baskerville, Dr. Watson must accompany him. Because the situation maybe dangerous.

        Before going to Baskerville Hall,  Sir Henry stayed at the hotel in London.During stayed in the hotel, he found a gaffe. He waslosingone of his boots that was put  in front of his door. He also followed by stranger who had chin when he walked around the town. Holmes & Watson was tried to run after him, but it was no result.

         The next day, Dr. Watson and Sir Henry arrived at Baskerville. The atmosphere in Baskerville Hall was tight and not cheerful. When Dr. Watson walked through, he met Mr. Stapleton, a naturalist. His house was not far from the moor. On the way to the baskerville, Watson met Miss Stapleton. She admitted that she is Mr. Stapleton’s sister. She asking him in order Sir Henry back to London as soon as possible. In her opinion, Baskerville is too dangerous for Sir Henry’s life.

            An evening in Baskerville Hall, Dr. Watson and Sir Henry looked someone near the window.  He peered  at outside with brought a candle. Sir Henry sceptically walked up  to him. And looked! He was Barrymore. Dr. Watson tried to ask him what he was doing. Uneasily, Barrymore said that he gave a sign to a prisonerthat he would send some food and milk. His name was Seldan, a prisoner who lurk. He was Mrs. Barrymore’s brother.

       Everyday, Dr. Watson sent the report to Baker Street about what happened in Baskerville. This case was more complicated than others case because the murderer was a hound. Also the story about Sir Henry who was falling in love with Miss Stapleton made the situation more complicated.

              Dr. Watson was observing around the moor, he looked a boy was walking through the hut. After a few minutes, Watson looked  into that hut but nobody was there. A short time later, it might sound footfall. Apparently, it was Holmes’s footstep. Then, they talked about this case and the reason why Holmes  resided at that hut.

           Suddenly, they heard a dog’s howling that followed by shrieking. They investigated the source of that sound. It’s near the moor. A human corpse  found lie down wearing Sir Henry’s clothe. He is Selden, a prisoner.

            Holmes had arranged a plan for catch the murderer. He went to London for asking some help to his colleague, Lestrade. At night in Baskerville, There were two men in the dining room. Sir Henry and Mr Stapleton. Watson watched them from a far. Holmes and Lestrade  waited up near the moor with a revolver on their pocket. When Sir Henry and Stapleton left the room, Watson came to Holmes and  got prepare. A sound of quick steps broke upon the moor. The steps grew louder and louder. It is the hound who ran after Sir Henry. Some of bullet concerned to the hound and made it fell down. Sir Henry had survived but he was unconcious caused shock.

            Such as Holmes’s hypothesis. That hound was belong  to Mr. Stapleton that wilfully did a murder. That hound was hidden in Grimpen Mire, near the moor. No one knew unless Mr. & Miss. Stapleton. Actually, they were a couple of married, not a brother & sister. Miss Stapleton had lied to Sir Henry.

         The main murderer in this case was  Mr. Stapleton. Actually, he was the son of  Rodger Baskerville who fled to America with a bad reputation.
           

Share:

[Poetry Analysis] Where The Sidewalk Ends



Where the Sidewalk Ends
By Shel Silverstein


            There is a place where the sidewalk ends
            And before the street begins
            And there the grass grows soft and white
            And there the sun burns crimson bright
            And there the moon-bird rests from his flight
            To cool in the peppermint wind

            Let us have this place where the smoke blows black
            And the dark street winds and bends

            Past the pits where the asphalt flowers grow
            We shall walk with a walk that is measured and slow
            And watch where the chalk-white arrows go
            To the place where the sidewalk ends

            Yes, we’ll walk with a walk that is measured and slow,
            And we’ll go where the chalk-white arrows go,
            For the children, they mark, and the children they know
            The place where the sidewalk ends






Analysis of the Poem
Where the Sidewalk Ends

            This poem is written by Shel Silverstein. He was born into a Jewish family on September 25, 1930, in Chicago. He was an American poet, singer-songwriter, cartoonist, screenwriter, and author of children's books. His book was translated into more than 30 languages. It has sold over 20 million copies. In 1984, Silverstein won a Grammy Award for Best Children’s Album for Where the Sidewalk End. Shel Silverstein passed away on May 10, 1999, from a heart attack in Key West, Florida.

            The setting of the poem takes place in two different locations. The first location takes place in the area called where the sidewalk ends. It is a beautiful place that is described by nice things, such as the grass grows soft and white, the sun burns crimson bright, the moon-bird rests from his flight, and the peppermint wind. We can see in the second stanza that is described by telling about the air pollution. It shows the place of industrial area which has bad condition that is expressed by the words the smoke blows black, the dark street, and the asphalt flowers. The time of this poem occur in a day when the sunset is coming because of the words the sun burns crimson bright. Crimson is a colour when the sun has been disappearing.

            In this poem, I use the anapest as the meter of the first stanza which is a foot of three syllables, stressing on the last one. On the second and third stanza, I use the dactyl which is reverse of the anapest and the stressed syllable placed before the two unstressed syllable.

            The pattern of the rhyme sounds in each line of this poem is different. From the first stanza, in the end of the line, it expresses the words “ends” [e], “begins” [ɪ], “white” [aɪ], “bright” [aɪ], “flight” [aɪ], and “wind” [ɪ].  It shows that the first stanza use the rhyme scheme “ABCCCB.”  The second stanza, in the end of the line is represented by the words “black” [æ], “bends” [e], “grow” [əʊ], “slow” [əʊ], “go” [əʊ], and “ends” [e]. The pattern of the rhyme in this stanza is “DAFFFA.” In the last stanza, there are four lines, which is in the end of the line it shows the words “slow” [əʊ],  “go” [əʊ], “know” [əʊ] and “ends” [e]. This last stanza also has the different rhyme scheme of the each lines, the pattern is ‘FFFA”. From the explanation, this poem doesn’t use the definite rhyme. The pattern of the rhyme in each line of the whole poem is different, but it has the similarity between the first line and the last line, as follows  “A – B – C – C - C – B – D – A – F – F – F – A – F – F – A.”

            The repetition of the words where the sidewalk ends, is used in every stanza to emphasize the main topic of this poem. It has the function to remain the reader about the place called sidewalk ends. He also repeats the words the chalk-white arrows go and walk with a walk that is measured and slow in the second and third stanza. By all means, he convinces the reader about the direction to the sidewalk ends without any doubt.

            This poem uses visual imagery. The writer tries to make us imagine how the place is with our visual sense. He describes the concrete things about the irony between the first stanza and the second stanza. The first stanza tells us about the description of the place that equal with the title of this poem, “Where the Sidewalk Ends”. It explains about the childhood that full of happiness and beautiful condition without contaminating bad things. The writer persuades us to imagine about the place of the sidewalk ends. It is filled with many things that most of children like it, such as the bright sun, the soft grass, and the peppermint wind. The opposite view comes from the second stanza. It shows the darkness imagery of the condition that far from the sidewalk. The writer tried to compare that the place of the second stanza is full of the pollution and there are no happiness in adult life. They live in the crowded place with many factories, industrial area, and distressing business. It also reminds us to look for the place that can make our mind to be fresh. The last stanza ensures that the adults will go to the place slowly and rest for a while from their distressing life. They will follow the direction to the place of happiness and pleasure. The last line shows that the children will be a guide, because they know the way where the end of the sidewalk is.

The writer of this poem uses some figurative language, such as metaphor, personification, and symbol. From the first stanza, the writer uses comparison to compare the place of the sidewalk ends with many beautiful things. The writer uses metaphor to make the readers imagine how the condition of the place is. In the second stanza, the writer uses metaphor too. The writer expresses the contrary between first stanza and second stanza. He describes a place with the comparison of many dark things. Personification found in the words the chalk-white arrows go and the smoke blows black. The writer makes the chalk and the smoke seem like they are alive and do the things like the creatures usually do. The writer uses symbols in this poem. The sidewalk is represent of the joyful place that the children usually spend their childhood for playing.

The tone of this poem is different for each stanza. The clues of the tone can be seen on the poem above, which is written by the bold font. The first stanza shows that the tone is joyfull, satisfy, and pleasant. It is different with the second stanza. The tone is contrary which is tells about the unpleasant condition, but there is a willingness to go to the joyfull place “sidewalk ends”. The last stanza expresses about conviction and optimistic that the sidewalk is the best place to go. It is strengthened by the words Yes, we’ll walk with a walk that is measured and slow”.

The central idea of this poem is about the representative of the childhood’s life that is very enjoyable. The environment in the childhood’s life is friendly, it’s not like the environment in the adult’s life that is full of the air pollution and crowded. The writer tries to remain us, as the adults to rest for a while from the distressing life. He persuades the reader to remember the happiness life of the children.

Based on this poem, I can learn that as a human, we should keep our environment from the pollution. The children can teach us about the happiness and cheerful. I think the writer concerned about the condition of that time that it was not as joyful as the condition when he was a child. Actually, this is the same as my condition. When I was a child, i can feel the fresh air, the nice weather, and friendly environment. I could be happy even if it was just playing with my friends in the favorit place in my village. I could be pleasant without thinking any problems of life. For the time being, as an adult, I feel I ‘ve lost the condition where my environment is not like my childhood. It is filled with the air pollution and the trees is very rare, because my neighboors often cut down the trees to expand their houses. Sometimes, I remember my childhood that is fulled of happines and I want to go to the place as like as where the sidewalk ends.




Silverstein's signature

Share: